oleh Admin
Ada yang baru di hari Sabtu tanggal 10 Maret 2012. Ruangan utama di Pondok Pesantren Mahasiswi Rabingah Prawoto ramai dengan pejuang muda yang penuh semangat. Merekalah para pengajar yang tak kenal lelah, para pengabdi tak kenal pamrih, dan para pendidik tanpa tanda jasa. Pejuang muda GKM dari penjuru kampus di seluruh DI Yogyakarta pada hari itu berkumpul menjadi satu untuk saling ta’aruf, sharing, berbagi cinta, dan berbagi cerita tentang TPA, Paud, dan Anak Jalanan. Di sana mereka juga mendapatkan training tentang urgensi pengabdian dan teknik aplikatif mengelola anak-anak (TPA, Paud, dan Anak Jalanan) dari para ahli yang kompeten dibidangnya.
Acara dibuka oleh kak Lina selaku MC dengan games perkenalan. Harus kau tau sobat, pejuang muda GKM ternyata bukan hanya berasal dari UGM saja. Ada juga yang berasal dari UMY, UIN Sunan Kalijaga, UNY bahkan lulusan SMA yg baru mau kuliah. Dalam perkenalan ini banyak hal yang digali dari para pejuang muda ini, mulai dari asal daerahnya, hobi dan kesukaannya, sampai motivasinya untuk ikut GKM.
Setelah selesai berkenalan, acara dilanjutkan dengan materi mengenai urgensi pengabdian oleh kak Isnan (Psikologi UGM 2009) dengan judul materinya “Akankah pengabdian sekedar untuk mengisi waktu luang ?” (maaf admin lupa redaksionalnya). Bersama kak Isnan diulas lebih mendalam tentang urgensi mengabdi bagi mahasiswa. tentang perannya, tentang manfaatnya, dan tentang tujuannya. Kak Isnan juga mengajak para pejuang muda untuk berdiskusi mengulas permasalahan yang ada saat kita sedang melaksanakan sebuah pengabdian. Ia juga membuat perumpamaan tentang usaha di atas rata-rata yang harus dimiliki oleh seorang pejuang muda menggunakan ilustrasi meniup balon hingga meletus. “Man Jadda wa jada !!” barang siapa yang bersungguh-sungguh ia akan mendapatkannya. Materi dari kak Isnan berlangsung cukup lama hingga waktu makan siang, dan para pejuang muda cukup antusias dibuatnya.
Setelah selesai istirahat dan makan siang, materi dilanjutkan oleh kak Kharis (Teknik UGM 2007 ) tentang cara mengelola anak-anak. Kak Kharis membawakan materi dengan warna yang berbeda, dengan mendongeng. Ia mengajak para pejuang muda memasuki dunia anak. Yup… kak Kharis mengajak para pejuang muda mengeksplorasi apa saja yang disukai anak-anak, apa saja yang tidak disukainya, serta bagaimana cara Rasulullah dan para sahabat ketika berinteraksi anak-anak. Kak Kharis menekankan agar para pejuang muda mampu berfikir kreatif dalam berinteraksi dengan anak-anak. Pejuang muda harus pintar membuat permainan baru, pintar membuat lagu-lagu unik, dan pandai bercerita.
Bersama kak Kharis kita juga bermain membuat origami dari kertas lipat sebagai pembuktian lebih kreatif mana antara pejuang muda dengan anak TPA yang sebenarnya. Klimaksnya beberapa pejuang muda juga diminta maju untuk diuji skill mengajarnya (pura-pura menjadi ustadz/ah di TPA) di hadapan rekan-rekan pejuang muda lainnya yang pura-pura jadi santrinya. (ha..ha… admin suka sesi yang ini)0
Tak terasa, akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Rangkaian acara fun gathering siang itu ditutup oleh wejangan dari kak Dina, sekjend KAMMI 2010-2011. Kak Dina senantiasa menyemangati agar pejuang muda tak lelah untuk terus berjuang, terus berkarya, menemani, membersamai, dan mengukir asa para generasi masa depan. Adzan Ashar berkumandang, fun gathering hari itu pun ditutup dengan senyum bahagia, ungkapan ras syukur, dan do’a kafaratul majlis.
Pejuang muda GKM siap kembali mengajar, memotivasi, menginspirasi anak-anak muda Indonesia. cemangadh !!
Allahu Akbar…



